Sokola Rimba: Memupuk Asa Anak Rimba Indonesia

Sokola Rimba: Memupuk Asa Anak Rimba Indonesia

Namanya Saur Marlina Manurung. Tapi seperti gadis kecil batak lainnya, Saur kecil dipanggil Butet. Kini orang lebih mengenalnya sebagai Butet Manurung, “Bu Guru” bagi anak-anak Suku Anak Dalam di hutan rimba Jambi. Selama belasan tahun, ia berjuang membebaskan orang rimba dari buta aksara.

Kini sudah lebih dari 20.000  orang rimba di seluruh Indonesia, yang terbebas dari buta aksara berkat kerja kerasnya. Ia telah banyak mendapat penghargaan. Diantaranya “The Man and Biosphere Award 2001” dari LIPI-UNESCO, “Heroes of Asia Award 2004” dari Majalah Time, “Women of The Year” dari Televisi Anteve pada 2004, dan terakhir “Ramon Magsaysay Award 2014” yang dikenal sebagai penghargaan Noble versi Asia.

Wanita yang bergelar sarjana Sastra Indonesia dan Antropologi ini mengawali pertualangannya di rimba pada tahu 1999, ketika dirinya menjadi fasilitator pendidikan alternatif bagi suku asli Orang Rimba atau Suku Anak Dalam, Jambi. Awalnya ia tidak langsung mengajar, melainkan melakukan observasi dulu selama tujuh bulan. “Orang Rimba cenderung menaruh curiga terhadap orang terang,” ungkap wanita usia empat puluh lima tahun tersebut. Orang terang adalah sebutan orang rimba bagi orang kota. Orang rimba menganggap orang terang sebagai orang yang suka menipu dan melakukan perbuatan setan. “Karena mereka melihat ada pesawat terbang, ada mobil, jadi mereka pikir bahwa di luar rimba sana banyak perbuatan setan,” tambah Butet sambil tertawa.

Waktu itu, Orang Rimba menganggap belajar baca tulis adalah sesuatu yang tabu dan bisa menimbulkan malapetaka. “Waktu itu ketika awal saya mengajar, kebetulan kepala suku mereka meninggal. Dan mereka sempat mengata-ngatai bahwa saya menyantet dan mengajarkan baca tulis ke anak-anak mendatangkan malapetaka,” kenang Butet. Dirinyapun sempat diusir. Namun ia berpikir masyarakat adat perlu membuat pilihan. Mereka bisa saja tidak mau belajar baca tulis, tapi mereka akan ditipu orang luar, lahannya diambil, lalu mereka dirumahkan dan kehilangan tempat tinggal mereka selama ini.

Perlahan tapi pasti, dirinya mampu merebut hati orang rimba. Sekali waktu ia mencatatat syair lagu suku Orang Rimba, dan keesokannya ia sudah hapal. Sontak mereka kaget, dan Butet dengan santainya menjawab bahwa itu berkat dirinya yang mampu menulis. Dilain kesempatan, Butet juga membantu anak suku untuk mendapatkan harga yang pantas ketika menjual rotan, dengan mengajarkan angka dan perkalian. Perlahan, ia mulai mendapat kepercayaan dari orang dewasa di suku Anak Dalam.

Sejak tahun 1999, Butet Manurung bersama timnya, telah mendirikan Sokola Rimba, Sokola yang mengajarkan literasi dan advokasi untuk Komunitas Adat di Indonesia. Sudah banyak masyarkat adat yang dibantu oleh Sokola Rimba, mulai dari Jambi, Flores, hingga Papua. Sokola Rimba mengajarkan literasi dan membantu masyarakat adat secara mandiri menyelesaikan permasalah-permasalahannya.

Permasalah utama masyarakat adat biasanya dikarenakan adanya pemahaman yang berbeda antara orang adat dan pihak terkait, seperti masyarakat desa, LSM, atau lembaga keagamaan yang mencoba untuk membantu Orang Rimba. Sokola Rimba, selain membantu untuk mengajarkan literasi, juga memfasilitasi agar masyarakat adat bisa menyelesaikan masalah dengan pihak-pihak terkait. Dulu, ketika awal Sokola Rimba berdiri di Jambi, permasalahan utama yang terjadi adalah Orang Rimba sering ditipu oleh Orang Terang, sehingga mereka kehilangan tanah-tanah mereka.

Berkali-kali hampir mati, diancam dibunuh, tidak menyurutkan langkah Butet untuk memperjuangkan pendidikan Orang Rimba. Sokola Rimba adalah bagian dari impian masa kecilnya yang menyukai novel dan film petualangan seperti Lima Sekawan dan Indiana Jones. Rasa bahagia dan puasnya juka timbul ketika salah satu anak didiknya mampu membanca surat perjanjian. “Disitu saya melihat bahwa bisa membaca bisa menyelamatkan hidup kita,” tutur Butet.

Bagi Butet Anak Rimba adalah keluarganya sendiri. Mereka yang berkali-kali menyelamatkan hidupnya dari serangan ular kobra dan beruang serta yang membelanya ketika ia diancam dibunuh oleh pemalak liar. Dari Anak Rimba ia belajar bahwa hidup itu lucu. “Anak-anak rimba nampak selalu ceria walau kesusahan apapun menimpa mereka,” ungkap Butet. Ia juga belajar untuk bersikap toleran dan bahwa menolong sesame itu keren.

Harapan dan impian Butet untuk Anak Rimba dan Indonesia masih Banyak. Diantaranya, ia ingin system pendidikan Indonesia yang lebih mementingkan bermainnya anak-anak. Selain itu sistem pendidikan juga harus dibuat kontekstual sesuai dengan kondisi dan adat masyarakat setempat. Semoga kedepannya, semakin banyak Butet-Butet lain, di Tanah Air tercinta ini, Bumi Indonesia.

Kontak Kami

Jl. Bukit Cemara Asri DO.26
Perum. Bukit Safir Jaya, Tembalang – Semarang

Email. aksibaik.id@gmail.com
Ph. +62 24 7640 5870
Wa. +62 878 8121 5000

Logo NB-bub-white

AksiBaik.com 2017 - Yayasan Niat Baik Sinergi