Rumah Uplik: Membudayakan Anak-Anak Lewat Seni dan Membaca

Rumah Uplik: Membudayakan Anak-Anak Lewat Seni dan Membaca

Tak perlu kaya untuk mulai aksi baik. Tak perlu pintar untuk mulai mengajar. Hanya perlu niat baik. Begitulah kira-kira yang ada di pikiran Waljiono, 43 tahun,  seorang mantan security yang tinggal di Dusun Resowinangun, Desa Pledokan, Kec. Sumowono, Kab. Semarang. Walaupun hidup sederhana dan jauh dari kata keberlimpahan, pria tengah baya ini berinisiatif mendirikan sanggar baca yang ia namai Rumah Uplik. Ya, uplik, seperti filosofi uplik yang walau kecil namun mampu menerangi kegelapan malam. Begitulah harapan waljiono akan keberadaan sanggar bacanya, walau sederhana, namun mampu mencerdaskan anak-anak di dusunnya.

Semua berawal pada tahun 2011. Ia mulai sadar bahwa anak-anak di dusunnya mulai kehilangan jati diri budaya lokal dan cenderung terkena dampak budaya asing. Ia mulai memutar otak, kira-kira apa yang dapat ia perbuat untuk meningkatkan kesadaran anak-anak di dusunnya. Ia memutuskan untuk membuat sanggar baca, yang ia namai Rumah Uplik. Kegiatan yang dilakukan disanggar ini tidak hanya membaca, melainkan juga seni dan bengkel kreativitas.

Waljiono memulai semuanya dari nol. Ia menjual motor yang ia punya seharga delapas ratus ribu rupiah. Lima ratus ribu digunakan untuk membuat rak, sedangkan sisanya untuk membeli buku-buku bekas di pasar johar. Semakin hari, banyak juga orang yang mendonasikan bukunnya hingga kini sudah memiliki koleksi seribu buku lebih.

Niat baik Waljiono mulai mendapat tanggapan positif dari warga dan anak-anak sekitar. Banyak anak yang senang belajar di Rumah Uplik karena bisa mendapat teman baru, bermain sambil belajar, serta belajar seni. Menurut Waljiono seni merupakan bagian yang penting dari kehidupan manusia. “Anak yang belajar seni, belajar untuk berbudaya. Sehingga biasanya lebih tenang, tidak mudah mutungan,” tutur Waljiono.

Waljiono melihat, bahwa anak-anak di dusunnya sudah mulai meninggalkan kebudayaan. Nilai kesopanan  sudah mulai luntur dari anak-anak di desanya. Padahal teguhnya Indonesia berlandaskan keragaman di dalamnya. Oleh larena itu, ia berinisiatif mengajarkan tari kepada anak-anak setempat. Ia berunding dengan tetua desa setempat, dan tercetuslah sebuah tari gabungan modern dan tradisional, tari Jaran Hokya. “Anak-anak dibagi-bagi perannya, ada yang bermain kendang, yogo, dan penari,” ungkap Waljiono. Menurutnya, dengan diajarkan seni, anak jadi lebih berbudaya dan tidak gampang emosi.

Bagi Waljiono kebahagian tidak diukur dengan angka materi. Karena apa yang ia miliki di dunia tidak akan dibawa ke liang kubur. Sehingga ditengah kesederhanaannya sebagai penjual susu kedelai, ia tetap menyisihkan sebagian hasil penjualannya untuk pengembangan Rumah Uplik. Baginya Rumah Uplik adalah lahan amal dan ibadah. Ia berharap dengan adanya Rumah Uplik, ia mampu membantu mencerdaskan anak bangsa.

“Seperti kata pepatah. Jika ingin tahu kondisi bangsa 10 tahun dari sekarang, liat kondisi anak mudanya sekarang. Jika ingin tahu kondisi bangsa 20 tahun lagi, lihat kondisi anak-anak sekarang”

Kontak Kami

Jl. Bukit Cemara Asri DO.26
Perum. Bukit Safir Jaya, Tembalang – Semarang

Email. aksibaik.id@gmail.com
Ph. +62 24 7640 5870
Wa. +62 878 8121 5000

Logo NB-bub-white

AksiBaik.com 2017 - Yayasan Niat Baik Sinergi