fbpx
Peran Minim Universitas Dalam Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

Peran Minim Universitas Dalam Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

Sulit dibantah bahwa universitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dalam ukuran mikro, daerah-daerah yang memiliki universitas selalu mempunyai kehidupan ekonomi yang baik.

Daerah Dramaga, Bogor, misalnya. Sebelum Institut Pertanian Bogor pindah ke Dramaga, kehidupan ekonomi di sana sangat sepi. Sekarang luar biasa ramainya. Begitu juga Jatinangor, kawasan pinggiran Kabupaten Sumedang, yang saat ini bagaikan bagian dari Kota Bandung.

Namun manfaat kehadiran universitas bukan sekadar perubahan lanskap ekonomi mikro daerah. Jauh lebih besar lagi, kampus merupakan entitas yang bisa memicu pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi. Efek inovasi ini bisa sangat signifikan terhadap ekonomi negara, bahkan dunia. Kampus MIT, Stanford, dan Harvard, misalnya, adalah magnet pertumbuhan ekonomi inovatif yang dikelilingi perusahaan raksasa, seperti Google, Microsoft, dan Apple.

Apakah jumlah perguruan tinggi berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi? Bila demikian, Indonesia termasuk yang sangat baik karena perguruan tinggi kita lebih banyak dibandingkan dengan negara lain.

Saat ini, kita mempunyai sekitar 4.300 perguruan tinggi dengan total penduduk sekitar 260 juta jiwa. Bandingkan dengan Cina, yang berpenduduk sekitar 1,4 miliar, yang jumlah perguruan tingginya hanya 2.300. Namun apakah ekonomi kita lebih baik daripada Cina?

Arman (2018) telah menggunakan model statistik sederhana untuk mengkaji korelasi pertumbuhan ekonomi sebagai outcome dengan jumlah perguruan tinggi, rasio dosen-mahasiswa, dan indeks pembangunan manusia (IPM) sebagai variabel bebas. Data untuk kajian ini diambil dari seluruh provinsi di Indonesia.

Hasil pemodelan tersebut menunjukkan hanya IPM dan rasio dosen-mahasiswa yang memberikan efek signifikan. Adapun jumlah perguruan tinggi tidak memberikan efek signifikan atau koefisien negatif.

Model tersebut mengindikasikan jumlah perguruan tinggi tidak memberikan kontribusi apa pun terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan koefisien negatif itu menunjukkan jumlah perguruan tinggi kontra produktif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Alih-alih mendongkrak ekonomi negara, banyaknya perguruan tinggi malah menjadi beban. Mengapa? Jawaban singkatnya adalah ada asumsi yang tidak terpenuhi. Korelasi positif tersebut hanya bisa dicapai dengan asumsi bahwa mutu perguruan tinggi itu sudah sesuai dengan tuntutan pertumbuhan ekonomi, yaitu menghasilkan pengetahuan, keterampilan, manajemen, dan profesionalisme yang diperlukan untuk menyuburkan inovasi.

Berdasarkan hal tersebut, maka upaya merger atau akuisisi beberapa perguruan tinggi menjadi keharusan. Bila mengacu pada rasio perguruan tinggi dan penduduk Cina, kita cukup memiliki 400-an perguruan tinggi saja. Memangkas 3.900 kampus tentu bukan pekerjaan mudah. Namun membiarkan jumlah perguruan tinggi begitu banyak juga bukan sesuatu hal yang bijak. Di sini diperlukan suatu upaya jalan tengah. Bila kita bisa menurunkan jumlah perguruan tinggi dari angka 4.300 ke 2.000 saja, beban negara akan jauh berkurang.

Strategi paling mudah adalah merger berbasis wilayah. Karena itu, pada tahap awal perlu ada peta perguruan tinggi di setiap wilayah berbasis indikator kuantitatif, seperti jumlah mahasiswa, rasio dosen-mahasiswa, lama studi, indeks prestasi kumulatif, dan daya serap. Bisa juga dipelajari kelembagaannya, yakni eksistensi badan penyelenggara (yayasan) yang menaungi perguruan tinggi. Berdasarkan indikator itu, bisa dibuat peta kondisi perguruan tinggi.

Peta itu juga bisa disandingkan dengan tiga hal yang harus dipertimbangkan: kapasitas, kualitas, serta kesesuaian program studi dengan industri dan potensi daerah. Dengan demikian, kita punya peta kondisi yang lengkap.

Berdasarkan peta ini dapat dibuat pengelompokan perguruan tinggi setidaknya ke dalam tiga kategori: lemah, sedang, dan baik. Kelompok lemah bisa diakuisisi kelompok baik. Adapun kelompok sedang bisa melakukan merger. Metode ini bisa mengurangi jumlah perguruan tinggi sekitar 50 persen.

Program selanjutnya adalah penguatan perguruan tinggi, termasuk memberikan mandat untuk menyokong industri strategis. Ini juga menjembatani kesenjangan antara universitas dan dunia usaha. Pola penguatan ini dapat disesuaikan dengan jenis perguruan tinggi, yakni universitas riset, pengajaran, vokasi, atau politeknik.

Adapun kewirausahaan harus masuk ke semua jenis perguruan tinggi dalam bentuk pengajaran dan ekosistem. Bermodalkan pola seperti itu, barulah perguruan tinggi bisa mempunyai efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dewasa ini perekonomian semakin erat kaitannya dengan sains, teknologi, dan inovasi. Ketiga faktor itu tentu sangat memerlukan entitas yang kuat dalam riset dan pengembangan. Perguruan tinggi di berbagai negara sudah diakui sebagai tempat berkembangnya faktor-faktor penggerak ekonomi modern, sehingga tidak salah bila perusahaan-perusahaan berbasis inovasi dan pengetahuan mengerubungi kampus-kampus besar, seperti Stanford dan Harvard di Amerika Serikat.

Keadaan ini akhirnya menjadi simbiosis mutualisme yang sangat baik untuk ekosistem pendidikan tinggi. Sayangnya, di negara kita, ada persoalan kesenjangan atau bahkan diskoneksi antara perguruan tinggi dan industri.

Penelitian yang dilakukan perguruan tinggi di Indonesia hampir tidak ada hubungannya dengan dunia usaha dan industri. Kalaupun ada, jarang sekali diadopsi oleh industri karena berbagai alasan, seperti kandungan teknologi terapannya sangat rendah. Keadaan ini menyebabkan kehadiran perguruan tinggi tidak memberi efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kenyataan memprihatinkan ini sering disindir oleh Presiden Joko Widodo. Apa dampak dan manfaat dana riset sekitar Rp 24 triliun per tahun terhadap industri? Teman saya yang mempunyai pabrik vaksin hewan sempat menantang: “Berikan 1 persen saja, aku jamin bisa ekspor vaksin hewan.”

Situasi ini tentu tidak bisa dibiarkan terus berjalan. Perlu ada solusi untuk persoalan yang sudah menahun ini. Membiarkannya sama saja dengan membuat Indonesia menjadi negara konsumen, yang bergantung pada produk luar negeri, bahkan untuk pangan. Kondisi ini sangat merugikan dan membahayakan negara.

Untuk masalah sumber daya manusia, sektor yang wajib diperbaiki adalah kelembagaan pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Di tingkat perguruan tinggi, model penelitian jangan terlalu berbasis hanya untuk menjawab keingintahuan dosen, tapi harus dikaitkan dengan kebutuhan pasar dan industri.

Perlu dibuatkan beberapa alternatif solusi yang bersifat lebih terintegrasi dengan sektor di luar perguruan tinggi. Pertama, beberapa hasil riset perguruan tinggi perlu diperkenalkan kepada swasta dalam sebuah temu bisnis.

Biaya awal penerapan riset nanti jangan dibebankan kepada perusahaan yang berminat, tapi sebaiknya diambil alih oleh pemerintah pusat, provinsi, atau kabupaten. Indikatornya adalah peningkatan ekonomi daerah, pengurangan pengangguran, peningkatan partisipasi sekolah, dan pengurangan urbanisasi.

Kedua, pemetaan serta revitalisasi gedung dan fasilitas riset bersama pihak swasta terkait. Bila fasilitas itu laboratorium kimia, industri yang diundang mesti berkaitan, misalnya, dengan obat-obatan dan vaksin. Pemanfaatan fasilitas itu akan menguntungkan pihak swasta untuk peningkatan skala bisnis.

Ketiga, pemanfaatan sumber daya alam dengan kebijakan sistem industri tertutup. Industri berbasis SDA ini dilakukan di suatu wilayah yang terintegrasi hulu-hilir, mulai budi daya hingga industri turunannya. Semua disimpan dalam satu kawasan superblok.

Adapun jenis SDA yang layak dipertimbangkan adalah sawit, karet, kopi, kopra, cokelat, buah-buahan, ikan tangkap, padi, dan jagung. Superblok ini juga harus memiliki unit riset yang membawahkan laboratorium untuk riset dan produksi.

Keempat, mengaitkan hasil-hasil kajian dengan pengabdian kepada masyarakat atau teknologi sederhana tepat guna. Dalam hal ini Kementerian Riset harus bergandengan tangan dengan kementerian lain dan LSM.

Peran pemerintah adalah memberi kemudahan perizinan bagi LSM dalam memanfaatkan teknologi sederhana tepat guna. Indikatornya adalah adanya penerapan teknologi berbasis potensi lokal seperti sungai, berkembangnya industri rumah tangga, tertatanya sarana-prasarana desa, peningkatan partisipasi sekolah, pengurangan urbanisasi, serta tumbuhnya gotong royong dan kerukunan masyarakat.

Dengan keempat solusi itu, diharapkan alokasi dana riset pemerintah bermanfaat nyata.


Penulis : Asep Saefuddin, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia

Publikasi Pertama : Koran Tempo

Kontak

Telp. +62 822 9861 5000

Email. niatbaiksinergi@gmail.com

Media Sosial

Facebook. Niat Baik Sinergi

Instagram. TemanAksiBaik

Alamat

Plaza Kuningan, Menara Selatan, Lt. 11, Jl. HR. Rasuna Said, Kel. Karet Kuningan, Kec. Setiabudi, Jakarta Selatan 12920