Pejuang Migran di Perbatasan

Pejuang Migran di Perbatasan

Namanya mungkin tak dikenal sebagai pahlawan nasional. Wanita kelahiran lima puluh tujuh tahun silam ini mungkin nampak seperti wanita paruh baya pada umumnya, memakai hijab dan berkacamata. Siapa sangka, wanita bernama lengkap Arsinah Sumitro ini adalah seorang aktivis kemanusiaan yang memperjuangkan hak-hak TKI di perbatasan Indonesia-Malaysia, Entikong, Kalimantan Barat.

Kesehariannya sungguh tidak biasa, mulai dari mendampingi pengurusan dokumen Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal, memperjuangkan keadilan korban perdagangan manusia, bermain bersama anak-anak di PAUD yang didirikannya, dan mengajar anak-anak putus sekolah.

Semuanya berawal pada enam belas tahun silam. Dirinya merasa prihatin melihat banyaknya TKI yang menjadi korban penyiksaan dan ketidakadilan. TKI wanita yang dijual, gaji yang tak dibayar, penyiksaan, dan sebagainya. Seolah-olah permasalahan TKI tak ada habisnya.

Berbekal pengalamannya selama beberapa tahun menangani korban perdagangan manusia di Lembaga Swadaya Agromitra, ia menetapkan hati untuk membela kaum buruh migran di perbatasan Entikong.

Seperti pada hari itu, Arsinah mendampingi Hadia, seorang TKI yang sudah bekerja selama sepuluh tahun di Kuching, Ibukota Sarawak, Malaysia. Ia tidak bisa mendapatkan gaji selama bekerja karena tidak memiliki paspor. Arsinah dengan penuh ketelatenan mendampingi Hadia hingga menuntaskan dokumennya. Selain itu, Arsinah juga menjadikan rumahnya sebagai shelter bagi para TKI yang sedang tinggal sementara di Entikong untuk mengurus dokumen.

Kerja keras Arsinah tak berhenti disitu saja. Berawal kegelisahannya melihat banyak anak TKI yang tidak dapat bersekolah, ia pun mendirikan PAUD untuk anak-anak TKI. Namanya Sekolah Anak Bangsa. Ia berharap, walau sederhana, sekolah yang didirikannya bisa membantu anak-anak TKI untuk mengenyam pendidikan yang sama dengan anak-anak seusianya.

PAUD ini didirikan dengan dasar suka rela, sehingga pengajarnya pun merupakan ibu-ibu dari desa setempat yang mengajar tanpa dibayar. Sampai sekarang ada lima guru pembantu dan ratusan anak yang telah lulus dari PAUD ini sejak berdiri pada tahun 2007.

Selain pendidikan anak usia dini, ia juga membuka kelas khusus luar sekolah untuk anak-anak yang putus sekolah. Ia mengajarkan pendidikan dasar seperti baca tulis.

Salah satu muridnya adalah Abdul Muthalib, usia 15 tahun. Dirinya adalah anak mantan TKI yang bekerja di kebun sawit di Malaysia. Karena tidak memiliki akte kelahiran, selama di Malaysia ia tak dapat mengenanyam bangku sekolah.

Akibatnya ia putus sekolah sejak usia tujuh tahun. Cita-citanya besar, ia ingin pintar seperti anak-anak lainnya. Ia berkeinginan untuk mengikuti ujian persamaan, agar bisa melanjutkan sekolah lagi.

Orangtuanya yang mantan TKI sangatlah sibuk di rumah, sehingga tak sempat untuk mengajarinya baca tulis. Selain itu, ia pun membantu perekonomian rumah tangga dengan membantu orang tuanya berjualan bawang merah.

Perjuangan Arsinah untuk membela buruh migran yang tak mendapatkan keadilan tak hanya sampai disini. Dihari tuanya, ia tetap giat berusaha ditemani oleh putrinya Nawarah yang mengikuti jejaknya dengan menjadi pegawai di Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Bagi keduanya, hidup menjadi lebih bermakna, ketika apa yang mereka perbuat bisa bermanfaat untuk orang lain.

#TemanAksibaik

Kontak Kami

Jl. Bukit Cemara Asri DO.26
Perum. Bukit Safir Jaya, Tembalang – Semarang

Email. aksibaik.id@gmail.com
Ph. +62 24 7640 5870
Wa. +62 878 8121 5000

Logo NB-bub-white

AksiBaik.com 2017 - Yayasan Niat Baik Sinergi