Membangkitkan Minat Belajar Anak Desa di Bali Lewat Fotografi

Membangkitkan Minat Belajar Anak Desa di Bali Lewat Fotografi

“Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan kak Putu dan kakak-kakak lainnya dari Komunitas Anak Alam. Kalau tidak, mungkin saya tidak akan sekolah hingga SMK dan tetap menjadi anak petani,” ungkap Keliwon, seorang anak petani miskin di daerah Kintamani, Bali. Keliwon adalah satu dari sekian banyak anak asuhan Komunitas Anak Alam yang berhasil meningkatkan taraf hidupnya berkat bantuan beasiswa anak alam.

Keliwon, seperti banyak anak perbukitan kintamani lainnya, memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan. Selepas SD, biasanya orang tua mereka tak cukup mampu untuk menyekolahkan mereka hingga jenjang SMP. Pada akhirnya, kebanyakan selepas SD membantu orang tua mereka di kebun, atu sebagian lagi merantau ke Denpasar untuk menjadi pembantu rumah tangga.

Melihat realita tersebut seorang pemuda bernama Pande Putu Setiawan tergerak untuk membantu anak-anak di lingkungannya mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Selepas menyelesaikan kuliah pascasarjananya di Yogyakarta, ia mendirikan Komunitas Anak Alam pada tahun 2009. Komunitas ini memiliki tujuan untuk membantu anak-anak yang kurang mampu untuk bisa mengakses pendidikan dengan sarana dan prasarana yang lebih layak.

Awalnya Putu tidak langsung mengajak anak-anak desa belajar. Ia datang ke desa-desa dan mulai menjalin kedekatan dengan anak-anak di Desa Blandingan, Kintamani. Ia membawa banyak buku dan membuatkan sebuah rak buku untuk mereka. Ia berpesan kepada anak-anak disana, bahwa dirinya akan senang apabila bukunya tidak bersih dan menjadi kotor, artinya anak-anak betul-betul membacanya.

Lalu tiga bulan kemudian ia datang kembali ke desa tersebut, namun apa yang ia lihat sungguh mencengangkan. “Rak buku kosong, dan buku-buku berserakan di lantai tak terbaca,” ungkap Putu. Ia berpikir sesungguhnya ada apa. Ia pikir yang dibutuhkan adik-adik tersebut adalah buku.

Ternyata cara Putu kurang tepat. Anak-anak perlu dibangkitkan dulu minatnya untuk bisa menerima pengajaran. Dari situ mulailah ia menggunakan cara-cara informal untuk menggugah minat belajar anak-anak. Ia dan beberapa relawan lainnya menggunakan nyanyian, musik, tari, dan fotografi untuk mengajak adik-adik belajar dan membuka cakrawala.

Salah satu cara yang paling berhasil adalah fotografi. Anak-anak yang tadinya nampak pemalu, ketika disuguhi kelas fotografi langsung berubah antusias. Salah satunya adalah Keliwon. Saat itu ia masih kelas 1 SMP. Menurut Putu, awalnya Keliwon sangat pemalu, bahkan selalu memilih duduk di belakang. Namun ketika ada kamera, ia berubah menjadi sangat antusias.

Putu mulai menyadari bahwa Keliwon memiliki talenta yang terpendam. Hasil jepretan Keliwon terhitung bagus dan konsisten. “Waktu itu relawan fotografi kami, Richard, seorang fotografer asal Australia, mulai menyadari talenta terpendam Keliwon,” tutur Putu. Melihat hasil jepretan Keliwon, Richard mulai tertarik dengan realita kehidupan Keliwon. Hingga pada suatu ketika Richard kembali ke Australia dan membuat pameran foto khusus karya-karya Keliwon.

Hingga sekarang Putu, bersama Komunitas Anak Alam, masih aktif membantu ribuan Keliwon lainnya di 15 Desa di seluruh Bali. Di balik gemerlap bali, bayang-bayang kemiskinan masih menjadi momok. Namun penjuang-pejuang anak alam tak akan berhenti melangkah hingga nafas terakhir. “Saya berharap melalui kegiatan di Komunitas Anak Alam, Keliwon dan anak-anak yang tinggal di pelosok Bali mendapatkan pendidikan yang baik. Karena saya percaya betul, bahwa mereka akan menjadi asset Bali kedepan. Saya juga percaya, bahwa negara yang besar fondasinya adalah pendidikan yang baik,” tutup Putu sore itu.

Kontak Kami

Jl. Bukit Cemara Asri DO.26
Perum. Bukit Safir Jaya, Tembalang – Semarang

Email. aksibaik.id@gmail.com
Ph. +62 24 7640 5870
Wa. +62 878 8121 5000

Logo NB-bub-white

AksiBaik.com 2017 - Yayasan Niat Baik Sinergi