fbpx
5 Fakta Miris Kenapa Kamu Harus Peduli Kepada Nasib Nelayan Tradisional

5 Fakta Miris Kenapa Kamu Harus Peduli Kepada Nasib Nelayan Tradisional

Nelayan penangkap ikan berjumlah 2,73 juta jiwa di Indonesia, pembudidaya 3,35 juta jiwa, sehingga totalnya 6,08 juta jiwa. Merekalah yang menopang kebutuhan penyediaan pangan protein di Indonesia sebesar 80 persen ketimbang perikanan komersial.

Namun kawasan pesisir menjadi salah satu kawasan yang tertinggal. Nelayan tradisional dan buruh nelayan bertahun-tahun berada di garis kemiskinan. Berikut 5 fakta miris kenapa kamu harus peduli ke nelayan tradisional dan buruh nelayan :

 

  1. Perbudakan Modern Terjadi Dalam Industri Perikanan

Praktik penyelundupan manusia sudah merajalela di industri perikanan domestik. Para nelayan dari Indonesia tengah dan Indonesia barat dibawa ke Indonesia timur tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Untuk merekrut mereka, perusahaan memberi kasbon yang mencapai Rp 10 juta, tetapi Rp 6 juta-nya ditahan oleh calo agar nelayan menyelesaikan kontraknya. Akibatnya, para nelayan tidak bisa keluar dari pekerjaannya atau menegosiasikan hak-haknya.

Para nelayan dipaksa tetap melaut meskipun ombaknya besar. Mereka merisikokan hidupnya karena adanya ikatan hutang. Ditambah Kondisi kapal yang kadang tidak manusiawi dan tidak adanya kontrak persetujuan tertulis.

 

  1. Meski Tangkapan Berlimpah Upah Buruh Nelayan Kecil

Para nelayan sering kali tidak mendapatkan upah mereka yang seharusnya karena adanya sistem bagi hasil. Sebagai contoh adalah kalau kapten mendapat Rp 1 juta, Rp 400.000 diberikan ke perusahaan, Rp 200.000 untuk perawatan kapal. Sisanya Rp 200.000 dibagi ke nelayan yang ikut, padahal jumlahnya bisa 20 orang dan pembagiannya tergantung kaptennya.

Para perusahaan ritel global yang mendapatkan suplai ikannya dari Indonesia tidak tahu mengenai kondisi yang dihadapi oleh para pekerja industri perikanan. Mereka hanya mendapat laporan dari perusahaan mitra tanpa mendengar langsung dari para pekerja.

 

  1. Rentan Dibodoh-bodohi Oleh Pihak Bekerpentingan

Di satu sisi, tenaga kerja-tenaga kerja ini membutuhkan pekerjaan, tetapi tidak punya keahlian sehingga rentan dieksploitasi. Di sisi lain, ada oknum-oknum yang memanfaatkan kerentanan mereka dan memperjualbelikan tenaga kerja dari satu kapal ke kapal lain.

Para pengusaha pun kurang peduli terhadap para nelayan, sedangkan aparat daerah sering lalai dalam menegakkan aturan.

 

  1. Kapasitas Kapal dan Alat Tangkap yang Di Bawah Standar

Rata-rata kapasitas kapal yang dia miliki nelayan tradisional hanya mampu berlayar sejauh dua mil dari garis pantai. Jauh berbeda dengan kapal-kapal perikanan berkapasitas puluhan gross ton (GT) yang bisa menembus hingga ke perairan 12 mil.

Menangkap ikan 2 mil dari daratan termasuk sulit. Kapal berukuran 4 GT dengan alat tangkap jenis gill net kadang hanya biasa mendapatkan ikan untuk konsumsi keluarga saja.

 

  1. Sumberdaya Ikan Berlimpah Tapi Nelayan Tetap Miskin

Data KKP memang menyebutkan sumber daya ikan kelimpahannya meningkat dari 7,31 juta ton pada 2013 menjadi 9,93 juta ton pada 2015. Produksi perikanan pun meningkat dari 19,42 juta ton per tahun pada 2013 menjadi 21,72 juta ton per tahun. Ini terdiri dari rumput laut, ikan budidaya hingga ikan tangkap.

Harusnya kalau hasil kelautan Indonesia triliunan dolar Amerika setiap tahunnya itu bisa dinikmati oleh nelayan. Rumah-rumah mewah tidak hanya berdiri di sepanjang Pantai Indah Kapuk, Pantai Mutiara dan Ancol saja, tapi juga berdiri di sepanjang Pantura mulai jadi Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Namun faktanya, kehidupan para nelayan di daerah pesisir pantai utara (Pantura) Jawa masih indentik dengan kemiskinan dan kumuh.

Kontak Kami

Plaza Kuningan, Menara Selatan, 11th Floor,
19 Suite (Frakfurt), Jl. HR. Rasuna Said, RT.02, RW.05, Kav. C11-14, Kel. Karet Kuningan, Kec. Setiabudi, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota 12920

Email. niatbaiksinergi@gmail.com
Telp. +62 822 9861 5000